Graha Inspirasi

www.grahainspirasi.com

HOTLINE 021 21381712 | 082167330774

div class="medium"> 550311D0 +62 821 6733 0774

Kisah Nyata! Office Boy menjadi Vice President Citibank

Kategori : Kanal Inspirasi



Kisah Nyata! Office Boy menjadi Vice President Citibank

 

Siapa yang tidak tahu dengan Citibank, sebuah perusahaan bank raksasa yang berdiri pada tanggal 16 Juni 1812 sebagai  City Bank of New York di Amerika Serikat. Bank ini bergerak di bawah Citigroup yang merupakan bank dengan aset terbesar ketiga di AS setelah Bank of America dan JPMorgan Chase. Citibank memiliki operasi perbankan ritel di lebih dari 160 negara dengan daerah teritori di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Namun taukah kalian kisah tentang Houtman Zainal Arifin, yang pernah menjabat sebagai Vice President sebuah jabatan tertinggi di Citibank. Selain itu juga, ia bertindak sebagai direktur di sebuah perusahaan swasta, pengawas keuangan di beberapa perusahaan swasta, Komite Audit Negara, konsultan, penulis dan juga dosen pasca sarjana.

Houtman sendiri mungkin bukanlah siapa- siapa tanpa masa lalunya. Dari nol, perjalanan hidupnya diisi dengan kerja keras dan terus belajar. Diawali dengan ketekatannya merantau ke Jakarta Houtman bukanlah siapa- siapa dulu. Dia pernah menjadi anak jalanan, pedagang asongan dan juga bekerja sebagai office boy. Bagaimana nasib merubah hidupnya bukanlah perjalanan singkat. Pria kelahir 27 Juli 1950, di Kediri, Jawa Timur, Houtman Zainal Arifin telah berani hijrah dari desa ke kota pada tahun 60- an. Dia berharap kehidupan lebih baik di ibu kota Jakarta, minimal mendapatkan pekerjaan yang layak di sana. Namun apa mau dikata cerita tentang ibu kota berbeda jauh dari harapan, semua hanyalah kisah manis yang ternyata pahit dijalani. Dia memulai semuanya dari titik paling bawah tanpa adanya pilihan kembali. Bermodal uang Rp.2000 yang dipinjam dari seorang teman, Houtman memulai bisnis kecil- kecilan di Jakarta. Dia berjualan perhiasan palsu. Namun karena tertangkap polisi di jalan bisnisnya berhenti.

Ia menghadapi keras dan sulitnya kehidupan di Jakarta. Pekerjaan sulit diperoleh untuknya yang lulusan SMA, tak punya banyak. Dia akhirnya bekerja menjadi pedagang asongan untuk bertahan hidup. Houtman sering menghabiskan hidupnya di jalan raya dari satu lampu merah ke lampu merah lainnya. Kemudian dari kolong jembatan ia mulai menjajakan barang dagangannya. Panas terik tak dihiraukan hanya untuk memenuhi kebutuhan perut. Hidup seperti itu tak pernah memupuskan asanya untuk mendapatkan hidup layak. Dalam hati terdalam ia masih yakin akan pilihan untuk berhijrah. Suatu hari ketika beristirahat di kolong jembatan, ia melihat banyak mobil mewah berseliweran. Mobil- mobil mewah ratusan juta, penumpang yang berpakaian necis, kursi yang empuk dan berpendingin, dan tentunya bukanlah milik orang biasa. Dalam hati Houtman ingin seperti mereka yang punya banyak uang, dan saat itulah tekatnya membulat.

Tekat Houtman telah bulat untuk menjadi kaya. Dia ingin seperti orang- orang yang mengendarai mobil- mobil mewah. Hal itu lantas membuatnya berfikir keras bagaimana mencapai cita- citanya tersebut. Ia ingin hidup layak dan serba berkecukupan. Segara saja ia membuat surat lamaran pekerjaan, tanpa berpikir panjang, dikirim surat itu di tiap gedung perkantoran. Setiap rupiah dari berdagang asongan ia sisihkan. Uang- uang tersebut digunakan untuk biaya lamaran pekerjaan. Suatu hari, tiga hari setelah mengirim surat lamaran, Houtman akhirnya mendapat panggilan kerja dari sebuah perusahaan terkemuka di dunia, The First National City Bank (Citibank). Dia diterima bekerja sebagai office boy. Kedudukan pekerjaannya paling bawah dari hirarki suatu perusahaan. Selain bekerja sebagai office boy ia juga mengikuti berbagai macam pelatihan. Ilmu lain yang ia dapatkan diluar tempat pelatihan adalah dari para staf kantor.

Houtman selalu ikut membantu staf lain dalam menyelesaikan pekerjaannya secara sukarela. Ia yakin dari membantu sukarela maka skillnya akan ikut bertambah. Dia jadi mengerti cara kerja dan bagaimana menyelesaikan pekerjaan kantoran. Selain skill bertambah, sikapnya ini membuatnya disenangi oleh pekerja lain karena suka membantu, ini menambah nilainya dimata para staf. Semakin banyak dirinya membantu, semakin paham ia tentang bagaimana cara menjalankan tugas kantoran. Dia mulai menghafal istilah- istilah bank yang rumit dari seringnya bertanya. Ia jadi bahan tertawaan karena pertanyaan- pertanyaan itu terkesan "aneh". Dia tetaplah seorang office boy dihadapan para staf kantor itu.

Seiring waktu ia faham istilah-istilah perbankan seperti kliring, Letter of Credit, Bank Garansi, Transfer, dan lain sebagainya. Ada juga temannya yang sirik sering mengatainya, "ngapain OB aja kok ingin tahu hal-hal seperti itu, jadi OB ya OB sajalah gak perlu aneh-aneh." Mendengar hal semacam itu, Houtman tak marah namun ia cuma tersenyum, mereka tak tau tujuan utamanya adalah menjadi sukses. Dalam hatinya masih ada impian untuk jadi orang kaya.

Suatu ketika ada mesin  yang bisa memperbanyak dokumen secara cepat, bernama mesin foto copy. Waktu itu mesin foto copy barusan dipasarkan dan harganya masih mahal sehingga sedikit kantor yang memilikinya. Diantara kantor-kantor tersebut, kantor Houtman, Citibank telah memilikinya, namun ada masalah tersendiri. Orang yang dapat mengoperasikannya hanya satu orang. Houtman sering mengamati orang tersebut dan ia menawarkan diri untuk diajari selepas jam kerja. Orang tersebut mau menunjukkan cara kerjanya. Ia kemudian jadi mahir menjalankan mesin tersebut. Suatu hari ketika orang yang mengerjakan mesin foto copy sakit dan tidak bisa masuk, dia lah pengganti petugas foto copy. Dari hanya office boy akhirnya dia naik jabatan menjadi petugas foto copy. Tak mau berhenti di satu titik, dia semakin percaya diri untuk terus mengejar impiannya. Houtman jadi semakin gencar menawarkan diri untuk pekerjaan- pekerjaan rumit. Di sela- sela pekerjaan  sebagai petugas foto copy, ia sibuk membantu pekerjaan- pekerjaan rumit dan sulit secara sukarela. Tujuan utamanya adalah mendapatkan pengetahuan dari sana. "Bener mau bantuin, tapi gak boleh salah lho, ntar aku yang dimarahin bos," begitu celetuk salah seorang karyawan saat Houtman menawarkan dirinya. Akhirnya ia diberi tugas lain yaitu membubuhkan stempel pada Cek, Bilyet Giro, dan lain- lain.

Dia diberi tugas membubuhkan stempel di kolom- kolom tertentu. Dari sana lah Houtman ikut membaca tentang dokumen- dokumen penting tentang teknis perbankan. Dia juga menjadi lebih berhati- hati. Tugas untuk membubuhkan stempel butuh kehati- hatian tinggi dan tidak boleh ada kesalahan. Butuh waktu hingga berjam- jam untuk menyelesaikan beberapa lembar dokumen. Houtman mesti membubuhkan stempel di kolom tanpa melenceng sedikit pun. Dari pekerjaan sampingannya tersebut ia jadi cepat menguasai berbagai pekerjaan yang diberikan dan selalu mengerjakan tugasnya dengan baik.Dia juga semakin terkenal di kalangan karyawan Citibank lainnya karena sangat ringan tangan membantu staf lainnya. Para staf pun tak segan berbagi ilmu padanya. Sampai suatu hari ia diangkat menjadi pegawai bank karena prestasi dan kompetensinya walau ia hanya lulusan SMA. Tentu banyak orang mencibir tapi Houtman tak menggubris ucapan mereka.

Saat memangku jabatan barunya sebagai pegawai bank di Citibank, ia tetap haus akan ilmu pengetahuan. Houtman masih tetap ringan tangan dalam membantu staf lain dengan harapan mendapatkan ilmu dari mereka. Dia tak pernah lama memangku suatu jabatan, karirnya bak anak panah melesat dari busurnya. Hingga suatu hari, setelah 19 tahun, ia diangkat menjadi Vice President Citibank di Indonesia. Inilah puncak jabatan yang tak pernah terbayangkan seorang Houtman Zainal Arifin.

Hingga saat ini belum ada yang mengalahkan jenjang karir seorang Houtman Zainal Arifin. Dari satu jabatan paling bawah, sebagai pesuruh, naik ke tingkat tertinggi sebagai Vice President. Meski hanya lulusan SMA namun sifatnya yang tak mudah puas membuatnya belajar banyak. Secara otodidak, Houtman bekerja dari satu tingkatan ke tingkatan lain. Mimpi besar yang tercapai berkat rahmat Allah, dan dia tau benar hal itu. Dia berprinsip, "Allah tidak akan merubah nasib hamba-Nya, sebelum hamba-Nya berusaha sendiri untuk merubah nasibnya."

Houtman Zainal Arifin sang inspirator ini dipanggil Sang Khalik pada tanggal 20 Desember 2012 pukul 14.20. Jenazahnya disemayamkan di Jln. H. Buang 33 Ulujami Kebayoran Lama, Jakarta.

 

Sumber : Berbagai sumber